Rabu, 29 Agustus 2018

Kulwap Montessori di Rumah bersama Zahra Zahira






Resume Kulwap Institut Ibu Profesional (IIP)
Kalimantan Selatan

Tema : Montessori di Rumah
Hari/Tanggal : Jum'at, 12 Agustus 2017
Jam : 21.00 - 22.00 WITA
WAG Kampus 3 IIP Kalsel
====================

*Profil Narasumber*

Zahra Zahira. MSM
(Ms. Zahra/Kak Zahra)

Educational Background
S1 Manajemen Universitas Airlangga, Surabaya

S2 Strategic Management Universitas Indonesia, Jakarta

Certified Training
• Sunshine Montessori Teacher Training, 2015-2016, Jakarta
• College Allied Educators, 2016-2017, Jakarta
• Level 1 ABIA Applied Behavioral Therapist, 2016, Melbourne
• North American Montessori Center, 2016-2017, Canada

Workshops/Seminars
• Montessori and Special Needs – Jakarta, 2014
• One Day Montessori Sensorial – Jakarta, 2014
Inclusive Education in Indonesia – Jakarta, 2014
• Enriching Indonesia’s Education Through Montessori – Jakarta, 2015
• Foundation Theory, Melbourne Montessori School, 2016
• 0-3 years old Fine and Gross Motors Skill, Melbourne Montessori School, 2016
• 3-6 years old Understanding Culture, Melbourne Montessori School, 2016
• Dialogue with Materials, Reggio Emilia Australia Information Exchange, 2016, Melbourne
• Introducing Waldorf Education, Sophia Mundi Steiner School, 2016, Melbourne
• Engaging Parents, Career and Community, 2016, Monash University, Melbourne
• How to Teach Phonics to Young Child, 2017, Modern Montessori International

Work with Children/Special Needs
• ABA Therapist Coolkid Psychology, Melbourne, Australia
• Caulfield South Childcare, Melbourne, Australia

*Materi*

Montessori di Rumah
by. Ms Zahra

Sejak 2016 kemarin, Montessori memang sedang nge-hits. Bermula ketika bu Elviana Kusumo pemilik akun instagram Indonesia Montessori membagi aktivitas di rumah bersama anak laki-lakinya.

Saya sendiri pertama kali kenal Montessori sejak tahun 2012 dari ibu mertua saya yang sudah mengajar di Green Montessori Jakarta selama 10 tahun. Waktu itu, Montessori belumlah se-booming sekarang. Pertama kali mendengar di tahun 2012 saya merasa sangat asing. Hingga di 2014 saya memutuskan untuk membuka childcare, barulah saya mulai tertarik lebih lanjut dengan Montessori. Karena background saya Manajemen, saya berusaha mencari sertifikasi pendidikan anak tanpa harus mengambil kuliah pendidikan anak usia dini lagi. Akhirnya saya mengambil training Montessori di tahun 2014 yang saat itu angkatan saya baru 5 orang.

Alhamdulillah sekarang Montessori sudah banyak dipakai dan tidak seasing dulu. Disisi lain saya sangat senang karena banyak orang merasakan manfaatnya. Saat saya mengaplikasikan di childcare untuk anak normal ataupun special needs, guru dan orang tua juga merasakan manfaat dari pendidikan Montessori. Hanya saja, disisi lain, saya sedih kadang banyak orang yang ikut-ikutan tanpa mengerti filosofi Montessori.

Misalnya, membeli mainan Montessori yang mahal tetapi tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Yang perlu digarisbahwahi, Montessori bukanlah identik dengan material-material yang saat ini banyak dijual di Instagram. Montessori adalah filosofi. Filosofi dalam mendidik anak. Filosofi dalam menghargai anak sebagai individu yang dihargai, yang memiliki perasaan seperti orang dewasa.

Satu hal yang perlu diingat jika kita ingin mengaplikasikan Montessori di rumah, kitalah, orang dewasalah, orang tuanyalah yang harus berubah lebih dulu. Kita perlu memberi modeling perilaku yang baik untuk anak-anak.

DR. Abdullah Nashih Ulwan menekankan mendidik dengan memberi model keteladanan kepada anak-anak. Keteladanan adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan anak. Anak akan mengikuti tingkah laku pendidiknya, meniru akhlaknya, baik disadari ataupun tidak. Bahkan, semua perkataan dan perbuatan pendidik akan diingat dalam diri anak.

Di dalam QS. Al-Ahzab: 33
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut nama Allah."

Subhanallah, Rasulullah telah memberikan contoh teladan yang baik bagi umatnya. Yang bisa kita tiru dan ikuti dari perkataan dan perbuatannya.

Apalagi kita orang dewasa saat mendidik anak-anak kita, yang merupakan tanggung jawab kita di dunia dan akhirat perlu memberikan teladan yang baik. Keteladanan menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada baik buruknya anak.

Saya suka sekali dengan quote Montessori, "Modeling the good behavior". Di dalam kelas, guru-guru selalu bersuara pelan, tidak pernah berteriak-teriak, banyak diam, ketika anak-anak istirahat dan sedang tidur barulah tidak jaim lagi, tertawa lagi asal tidak di depan anak-anak.

Selain "Modelling the Good Behavior" ada 10 Filosofi Montessori yang dapat diaplikasikan di rumah:
1. Respect the Child. Menghargai anak sebagai individu yang punya perasaan seperti ornag dewasa. Menghargai pendapatnya, menatap matanya saat berbicara dan memberikan mereka kesempatan untuk memilih. Tidak memaksakan kehendak kita.

2. Freedom with Limits. Biarkan anak bergerak dan memilih sesuai yang ia inginkan dengan batasan tertentu. Terkadang, kebanyakan orang tua kita, terlalu memanjakan anak, menuruti semua yang mereka inginkan. Disisi lainnya, banyak yang membatasi keinginan anak dan melarang ini itu. Jika anak ingin sesuatu, bisa diikuti dengan syarat, "Boleh bermain di luar 15 menit ya."

3. Respect the Absorbent Mind Period. Anak usia 0-6 adalah masa mereka menyerap segala sesuatu di sekitarnya. Disinilah keteladanan mengambil peran utama. Salah satu murid saya suka sekali berkata gobl*k yang ternyata ada orang drmhnya yang suka berkata seperti itu. Betapa di saat usia ini pikiran mereka begitu mudah menyerap apa yang terjadi di lingkungannya.

4. Attune the Sensitive Periods.  Di masa ini anak sangat bisa untuk dilatih fokus dan konsentrasi. Sensitive periods adalah masa mereka suka mengulang-ulang kegiatan yang sama berkali-kali. Biarkan mereka mengulang kegiatan yang mereka sukai, di usia 7 tahun saja, anak sudah tidak sensitive periods lagi. Mereka cenderung bosan terhadap satu aktivitas dan suka berganti-ganti aktivitas lainnya.

5. Hands-on Learning. Biarkan anak belajar melalui semua inderanya dan eksplorasi dunia nyata.

6. Child Size. Kita semua ingin anak kita mandiri. Perlu ditekankan kita hanyalah shadownya anak-anak. Suatu saat nanti belum tentu kita hidup selama anak kita hidup nanti. Encourage independence dengan banyak melakukan kegiatan mereka sendiri dengan menyediakan furnitur yang rendah dan dapat dicapai anak. Jangan banyak kasian dan dibantu. Mereka makhluk luar biasa cerdas yang Allah ciptakan.

7. Do not interrupt children's work. Jika anak fokus melakukan sesuatu, tidak diinterupsi. Kadang-kadang saat anak sedang asyik melakukan aktivitas, kita orang dewasa suka terburu-buru menghentikan aktivitasnya. Biarkan dulu hingga selesai.

8. Isolating properties. Hanya ada satu tujuan pembelajaran. Jika kita ingin mengajarkan bentuk dari besar ke kecil, usahakan bentuk mainan berbeda dengan warna yang sama, contohnya Pink Tower. Jika kita ingin mengajarkan warna, maka bentuknya sama tetapi warnanya yang berbeda, contohnya Color Box.

9. Control of Errors. Berikan anak aktivitas atau mainan yang terdapat cara yang benar untuk menggunakannya. Contohnya, puzzle. Biarkan anak-anak memasang puzzle dengan mencari sendiri mana pasangan yang sama. Usahakan tidak membantunya sampai ia berhasil sendiri.

10. Prepared Environment. Memberikan lingkungan yang nyata, berguna dan keterampilan sehari-hari. Contohnya, aktivitas Practical Life, menyapu, mencuci piring sendiri, menyiram tanaman, memelihara binatang, dll.

Saya sendiri menyadari, modeling perilaku yang baik bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali hal yang dikorbankan, salah satu guru di tempat saya orangnya sangat ceria, di dalam kelas ia harus banyak diam dan memberi contoh yang baik. Saya selalu menekankan, kita orang dewasa juga bukan manusia sempurna. Tetapi kita bisa memaksimalkan perilaku kita untuk memberikan model dan teladan yang baik yang kita inginkan dari anak kita.

"Everything you say to your child is absorbed, catalogued, and remembered"
~ Maria Montessori.

*Tanya Jawab*

1. Yuli Anjarwati
A. Apakah ini maksudnya perilaku apa yg kita inginkan pada anak maka seperti itulah perilaku kita pada anak? Sekalipun perilaku kita itu semacam pura2? Jika sudah tdk dihadapan anak2 maka masih memungkinkan kita untuk tdk konsisten dg perilaku tsb?

B. Anak saya no 3, namanya Kirana, (4.5y) alhamdulillah kalo dinasehati, misal untuk tdk ngrebut mainan adiknya, diajak untuk sholat, masyaAllah butuh perjuangan luar biasa, nanti kalo sudah agak lama merayunya dan blm jg berhasil biasanya saya agak meninggi nada suaranya. Dan nanti Kirana akan menangis dan bilang "soalnya ummi kayak gitu. Suka marah2.." memang sih saya akhirnya agak marah, tapi setelah sebelumnya hampir sejam lembut2. Untuk kasus ini seperti apa ya solusinya?

Ms Zahra:
Kalau saya pribadi biasanya membuat list perilaku yang saya inginkan terhadap anak. Jika saya ingin ia bersuara pelan, maka saya yang harus modeling setiap hari secara konsisten. Hal lain misalnya, saya ingin anak makan duduk di kursi lalu membersihkan sendiri, saya harus duduk di kursi saat makan kemudian cuci piring sendiri saat bersama anak. Tentu tidak semua perilaku harus dilakukan semua secara bersamaan, kita juga sulit melakukannya. Buat list perilaku yang kita inginkan dari anak, lalu kita yang modeling perilaku tersebut. Kadang kita suka lupa, meminta anak berperilaku sesuai harapan tapi kita tidak mencontohkan. Dengan membuat list akan mepermudah kita berlaku secara konsisten untuk mencontohkan perilaku.

Anak-anak sangat ingat jika orang dewasa marah. Sekali kita marah, mereka cenderung menilai kita suka marah-marah. Dalam Montessori terkenal dengan Positive Discipline, Kind but Firm, Baik tetapi Tegas. Saat mereka kecil biasanya kita orang dewasa terlalu kind apa yang mereka inginkan kita berusaha turuti, tetapi saat mereka mulai besar 4-5 tahun keinginan mereka menjadi lebih kuat, dan akhirnya kita jadi terlalu firm lalu anak-anak menilai kita suka marah-marah. Jika masih di 4 tahun kita bisa mengaplikasikan kind but firm tadi. Kalau misal rebutan mainan, saya cenderung bertanya lagi ke anak, "Masih mau bermain ini? Boleh bermain bersama dengan adik ya" Jika ia tetap mau sendiri kita bisa katakan, "Oke jika tidak mau bermain bersama adik, mainannya ibu ambil" Apabila anak menangis tidak masalah karena anak menangis sedang belajar bahwa tidak semua keinginan ia bisa terpenuhi. Untuk masalah shalat, bisa dikatakan, "Boleh main, shalat dulu ya", anak usia 4 tahun saya lebih kepada pembiasaan dengan ajakan yang menyenangkan.

2. Nila :

kebetulan anak saya ada yg ABK -speech delay jd saya ingin bertanya :

a. bagaimana bisa aplikasi ke anak dg soeech delay, krn dia masih belum bisa komunikasi verbal. kalo peraga saja sudah bisa, tp takutnya stimulasi utk bicaranya kurang.       
             
b. bagaimane menjelaskan batasan2 dan aturan pada anak dg speech delay.

Ms Zahra‬:
a. Kalau di bahasa special education tidak ada istilah speech delay, bisa dikatakan language delay atau language disorder. Anak yang language delay suatu saat bisa mengejar keterlambatan bahasanya. Anak yang language disorder berarti anak yang tidak bisa kita paksa untuk berbicara verbal, akhirnya kita menggunakan komunikasi non verbal seperti PECS. Untuk anak language delay sendiri sangat banyak faktor pencetusnya, usahakan tidak bersentuhan sama sekali dengan gadget dulu. Agar tidak takut, bisa menggunakan Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (TPPA) sesuai usianya, indikator tersebut dapat kita buat target untuk stimulasi anak language delay.

b. Sama dengan kind but firm. Anak language delay pun seperti anak lainnya, yang bisa memanipulasi orang dewasa. Usahakan perilaku apa yang kita inginkan dari anak, kita lakukan terus secara konsisten. Salah satu murid saya language delay, orang tua nya mengira dengan memberikan apa yang dia mau dia akan nurut dengan kita, tapi kenyataannya tidak begitu, anak tersebut sulit dikendalikan dan semua keinginannya harus dipenuhi. Di awal tadi tegas dan konsisten terhadap perilaku untuk anak mainstream ataupun special needs adalah sama.

3. Cindy

Sy termasuk pendatang baru dlm dunia montessori ini. Saat ini yg sy lakukan adalah seputar kegiatan montessori dirumah dengan fokus pada fine and gross motoric skill.

Sy tertarik dg pelatihan montessori phonics yg pernah ms. Zahra ikuti. Apakah bisa diberikan contoh bagaimana mengenalkan kecerdasan bahasa terutama phonics utk anak usia dini dg pendekatan montessori.

Ms Zahra:
Halo bu Cindy.
Saya berharap bisa bertemu langsung dengan Ibu Cindy untuk menjelaskan tentang Phonics. Phonics sendiri merupakan pengenalan suara huruf alfabet sebagai metode membaca bagi anak-anak. Dengan mendengar bunyi hurufnya, mempermudah mereka mengingat huruf. Saya sendiri melakukan english phonics di childcare. P jadi "peh", B jadi "beh" dan lainnya. Saat mengetahui Phonics pertama kali saya sendiri tidak yakin apakah bisa diajarkan ke anak, ternyata saat diaplikasikan mereka menerima dengan baik dan hasilnya luar biasa.

4. Nelli
Saya ingin menanyakan hal terkait dengan respect the absorbing mind period.

a. Apakah ini berarti kita harus selalu menjaga lingkungan pergaulan anak?

Di rumah kami tdk ada tv, salah satu alasannya agar anak tdk meniru prilaku tdk baik dr tv. Dan kami memilih HS utk mengurangi interaksi yg bersifat kompetitif dan bullying.

Tetapi sangat sulit menemukan teman sepermainan yg beretika saat ini. Entah knp anak jaman sekarang mudah sekali melakukan kekerasan (mukul&main rampas). Perilaku ini kadang terbawa ke rumah dan yg jd korban biasanya adiknya dan mamanya.

b. Bila telah tercemari prilaku seperti itu, brp lama waktu diperlukan utk menanggulangi agar tdk permanen?

c. Apakah wajar bila ortu tdk memperlihatkan emosi sedih pun senang di depan anak? Sampai kapan kita berlaku jaim(modelling prilaku)?

Ms Zahra
Halo salam kenal bu Nelli.
a. Idealnya lembaga PAUD, TIDAK ADA satupun permainan yang bersifat kompetitif. Semua permainan kolaboratif dan membutuhkan kerja sama. Ini persis yang terjadi di sekolah negeri di Melbourne, tidak ada kompetisi, semua anak bermain gembira. Memang sulit jika menciptakan lingkungan sendiri, perlu ada engage dengan community. Itu sebabnya saya bertekad membuat institusi pendidikan yang engage antara school, parents dan community. Sebetulnya banyak orang tua yang tidak tahu cara menghadapi perilaku anak yang seperti tadi, jika diberitau mereka pun senang dan akan berusaha menerapkannya dirumah.

b. Sebelumnya di childcare kami, ada anak yang sangat tidak baik perilaku dan perkatannya. Hal tersebut butuh kerjasama sekolah dan keluarga di rumah secara konsisten, anak tersebut sekitar 3 bulan baru menunjukkan perubahan sikap yang baik. Tidak ada durasi tertentu yang dapat ditentukan, tergantung kerja keras dan kerja sama antara pihak yang berkaitan.

c. Jaim bukan berarti tidak ada emosi. Seringkali di kelas kita berkata kepada anak-anak, "Kalau membawa pink tower tidak hati-hati, Ms. Zahra akan sedih karena mainnya bisa rusak." Selalu utarakan perasaan, "Saya sedih kalau kamu melakukan ini", "Saya marah kalau kamu injak teman kamu dengan sengaja"
Jaim disini bukan berarti 24 jam jaim, tapi perilaku apa yang kita harapkan kepada anak. Jika saya dan guru-guru lain di kelas tentu harus jaim, karena kita ingin anak-anak tidak ribut di dalam kelas, bersuara pelan dan target-target lainnya.

5. Winda
Mau nanya.
a) berkaitan dengan poin no.3. Tadi kan periode anak memiliki absorbent mind itu usia 0-6tahun. Apa itu brarti golden age itu 0-6tahun. Karena saya masih bingung ttg golden age yg katanya hanya s.d usia 2tahun. Jd setelah 2th, anak meresap pengetahuan lbh lambat dbndg sblmnya.

b) berkaitan dengan poin no.8. Ttg isolating properties. Saya prnh baca buku teach me how to do it my self, di dalam buku tsb saya tidak menemukan alat peraga(wooden) montessori yg banyak dijual di IG(number rods, wooden stairs, pink tower, dll. Cmiiw). Hanya berupa printed material(c/number rods, pink tower,dll). Sbnrnya aslinya metode montessori itu apa mmg wajib ada wooden educative toys-nya sebagai alat peraga(spt punya Mb Elvina) atau bisa bebas(nge-print2 aja)?

Ms Zahra:
Salam kenal mba Winda,
a. The first six years, the child is taking in everything around him/her. Selama periode tersebut anak masih dengan mudah menyerap di lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang suka berbicara kasar justru belajar di umur 4/5 tahun saat mereka sudah mulai bisa berbicara yang artinya mereka menyerap bahasa dari lingkungan sekitarnya.

b. Buku Teach Me to Do It Myself merupakan buku khusus Montessori di rumah, buku tersebut merupakan buku yang sangat awal untuk mengenal Montessori, di buku tersebut sangat praktikal dan tidak menjelaskan tentang filosofi Montessori. Sedangkan isolating properties merupakan salah satu filosofi di bab Montessori. Isolating properties di buku tersebut dapat dilihat di poin learning size and shape dan learning height and length. Pink tower termasuk mengajarkan size, jika mengajarkan size warna nya harus sama. Seharusnya material montessori lain seperti sensorial, language, culture dan mathematics banyak hands-on learning.

6.  Vivi :
Miss Zahra, saya masih agak bingung dengan pernyataan banyak diam di kelas walaupun sebenarnya orangnya ceria.

Jadi sifat ceria tidak boleh diperlihatkan ke anak2? Dalam metode montessori, bagaimana maksudnya banyak diam ini, sedangkan misalnya untuk anak batita ,justru komunikasi intens dengan banyak mengajak berbicara akan membantu tumbuh kembangnya di bagian speech.

Untuk anak (0-2) tahun yg mungkin masih belum bisa mandiri, bagaimana pelaksanaan montessori yg ideal?

Ms Zahra:
Hai bu Vivi
a. Seperti dijelaskan di awal tadi, karena target kita di dalam kelas mengingankan anak untuk berperilaku bersuara pelan, berjalan di dalam kelas dan tidak teriak-teriak tentu kita perlu jaim. Kami pun tetap ceria saat menemani anak-anak di playground dan free play.

b. Idealnya, anak berumur 12 bulan sampai 2 tahun sudah bisa mandiri. Jika diawal masih disuapi, bisa di encourage terus untuk bisa makan sendiri. Pastinya bakal berantakan, tapi jika target kita ingin anak mandiri, tahan berantakannya asal ia bisa makan sendiri. Menaruh sendal dan sepatunya sendiri. Mencuci tangan sendiri. Mengambil  makan dan minumnya sendiri. Usahakan hal-hal tersebut dapat dijangkau sendiri oleh anak tanpa meminta bantuan.

💐 *Institut Ibu Profesional Kalimantan Selatan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Having Fun with Ecobrick

Nama Kegiatan : Have Fun with Ecobrick PJ Kegiatan : Kelas Berbagi Banjarbaru Hari/Tanggal : Ahad, 31 Agustus 2019 Tempat: Gazebo Hutan Pinu...